Sebenernya tulisan ini udah lama aku buat sekitar 1 tahun yang lalu baru aku munculkan karena baru sempat sekarang. Sebelumnya aku mau ngucapin met lebaran walaupun bulan syawal sudah berakhir tetapi silahturahmi harus tetap dilakukan (iya dong, iya donk(gayanya sitcom OB)) “minal aidzin wal faizin”. Bye the way aku tahun ini lebaran di Djakarta, kota yang sumpek dan panas itu lho yang katanya ibukota Negara kita. Pada suatu hari aku naik krl sepanjang perjalanan sambil menunggu kereta sampai ke stasiun kota aku berpikir lebih tepatnya ngelamun kali. Didaerah sumpek dan kumuh itu selintas aku melihat masjid, Kok ada ya? Didaerah itu ada masjid yang istilah kerennya rumah NU eh salah dink rumah Allah. Lalu aku teringat bahwa di Djakarta ini ada Masjid terbesar di Asia tenggara yang dilapisi emas, (namanya apa ya?) memang di Indonesia ini ada Masjid terbesar, pemeluk Islam terbanyak, jumlah masjid terbesar di asia tenggara, tetapi juga salah satu Negara termiskin(hebat hebat…eh salah dink) di asia tenggara lawannya mungkin cuma Myanmar si junta militer itu lho. Ada yang unik di Indonesia juga lo dengan banyaknya masjid di nusantara seharusnya banyak yang menggunakan ya? Coba dipikirin sampe gosong berapa persen coba setiap Jum’at pemeluk muslim di Indonesia sholat jum’at? Lalu berapa persen pemeluk muslim di Indonesia sholat wajib dimasjid? Makin kecilkhan, lalu berapa persen yang rutin sholat dimasjid? Nah makin kecilkan persentasenya. Itu hanya sebagian kecil masalah pemeluk di Indonesia, masalah lainnya adalah menjauhnya kaum muda dari masjid, free sex dimana-mana, minum miras, berjudi, penyalah gunaan obat terlarang, dan yang lebih ekstrim tidak bertuhan padahal yang mayoritas melakukannya adalah orang……(jadi nggak tega nyebutnya, tau sama taulah).
Sudah mulai kepokok masalah neh, aku pernah baca bukunya Jefrey Lang yang judulnya aku beriman maka aku bertanya. Dibuku itu dia concern banget banyaknya orang Islam generasi kedua di Amerika yang menjauh dari agamanya menurut Lang hal ini dikarenakan hal ini dikarenakan banyaknya ajaran agama yang tercampur dengan budaya di timur tengah sono sehingga orang yang terbiasa dengan budaya di Amerika merasa banyak ketidaksesuaian selain itu banyaknya mereka tidak mengenal dengan agama mereka. Miripkhan dengan masalah di Indonesia aku pun begitu. Hal ini dikarenakan kenapa? Karena pendidikan agama Islam kita hanya menyentuh kulit ngga sampe jeroannya. Dan yang paling sering didapet hanya masalah syariah tidak menyentuh masalah bagaimana caranya kita mendekat dengan diri kita Allah misalnya. Atau masalah bukti keberadaan Tuhan padahal itu pertanyaan sederhana tetapi juga paling njlimet. Selain itu agama Islam sederhana tetapi sangat kompleks. Itu hanya sebagian kecil masalah, guru agama yang mengajar disekolah pun kualitas dan fokusnyapun sudah ngga sejalan. Taulah kenapa? Itu belum masalah waktunya yang sangat singkat. Kita bisa saja mendapatkan pendidikan agama di pesantren tetapi siapa seh yang mau di pesantren, imagenya itu loh kotor, jorok, sumpek, tradisional, membosankan dan plus plus yang lain. Sehingga bisa dikatakan dakwah di Indonesia masih fail. Mulailah dengan jujur dengan diri sendiri.
Zaman Rosululloh, masjid jadi pusat peribadatan dan pusat pengajaran. Kenapa ngga mulai dengan seperti itu? Tetapi ngga sekedar mengajarkan mengaji aja. kritikku buat masjid adalah masjid hanya mampu menerima uang dari jama’ahnya tetapi tidak mampu memberi konstribusi secara signifikan kepada jama’ahnya bahkan cenderung ngga professional , hanya tempat sholat itu aja. Rosululloh bersabda memberi lebih baik dari pada meminta. Jadi konsepnya seperti ini selama 1 jam setiap harinya dari SD sampe SMA murid2 itu diajarkan tentang Islam secara menyeluruh ngga hanya belajar ngaji aja karena mengaji saja tidak mampu menjadi filter. Tetapi kurikulum yang digunakan harus benar benar siap apa yang diharapkan ingin dicapai tahun itu Buat muridnya? Dana untuk penyelenggaraan didapat dari murid dapat juga melakukan subsidi silang untuk warga miskin, tentu saja secara psikologi manusia lebih senang membayar dibandingkan dengan gratis tentu dengan kualitas standar dengan biaya. Selain itu dana itu digunakan untuk membayar marbotnya sehingga marbot bekerja secara profesional. Marbot/ ustadz yang menjaga atau mengajar pun ngga sembarangan harus dilatih secara professional dengan standar mengajar dan mampu menjaga masjid dengan diawasi suatu organisasi yang mengkhususkan pada pembinaan masjid. Organisasi ini tidak hanya mengajar marbotnya tetapi juga pembuat kebijakan bagaimana masjid menjadi professional, selain itu menjadi pengawas. diIndonesia dengan jumlah masjid sangat banyak tentu saja mampu. Ini adalah ide ideku.